Bismillāhirraḥmānirrraḥīm


Ulima Darmania Amanda

Published October 14th 2020‎ at: http://banten.litbang.pertanian.go.id/new/index.php/info-teknologi/14-alsin/2289-mendulang-dollar-dari-porang-bagian-1-pengenalan-tanaman


Porang (Amorphophallus muelleri Blume; sin. A. blumei (Scott.) Engler; sin. A. oncophyllus Prain) merupakan jenis tanaman umbi yang mempunyai potensi dan prospek untuk dikembangkan di Indonesia. Selain mudah didapatkan, tanaman ini juga mampu menghasilkan karbohidrat dan indeks panen tinggi [1]. Porang merupakan tanaman yang potensial untuk dikembangkan sebagai komoditi ekspor karena beberapa negara membutuhkan tanaman ini sebagai bahan makanan maupun bahan industri [2]. Umbi porang mengandung glukomanan yang dikenal sebagai Konjac Glucomannan (KGM) yang berkisar 65 – 74% [3]. Kandungan glukomanan banyak digunakan dalam bahan industri makanan tradisional di Asia seperti mie, tofu dan jelly. Indonesia mengekspor porang dalam bentuk gaplek atau tepung ke Jepang, Australia, Srilanka, Malaysia, Korea, Selandia Baru, Pakistan, Inggris dan Italia [2].


Daftar Isi

  1. Daftar Isi
  2. Taksonomi Porang
  3. Deskripsi Amorphophallus muelleri Blume
    1. Batang
    2. Daun
    3. Bulbil/katak
    4. Umbi
    5. Bunga
    6. Buah/biji
    7. Akar
  4. Referensi

BPTP Banten telah melakukan identifikasi tanaman porang lokal di Kec. Gunungsari ‎Kab. Serang sejak Maret 2020. Identifikasi dilakukan melalui wawancara dan melihat ‎langsung kegiatan perbenihan porang lokal Banten. Tanaman porang ‎di Kec. Gunungsari telah ada sejak 20 tahun lalu, namun baru mulai dilirik oleh petani sejak ‎‎2019. Saat ini, terdapat 8 desa di wilayah BPP Gunungsari yang melakukan perbenihan ‎tanaman porang. Petani tertarik mengembangkannya karena prospek ekonomi ke depan ‎cukup menjanjikan.‎

Budidaya porang juga dapat dijumpai di Kp. Pasir Gadung, Desa Sangiang, Kecamatan ‎Mancak Kabupaten Serang. ‎Imamudin, petani porang, telah melakukan pencarian porang ke hutan sejak tahun 2017. Hasil pencariannya menemukan bahwa porang atau “cuklek” (nama lokal red.) ‎ternyata banyak tersebar di tiga kampung, yaitu Cikalapa, Bojong dan Sukajaya.‎ Tahun berikutnya, petani mulai mencoba membudidayakan porang. Seiring dengan hal ‎tersebut, terbentuk pula poktan pengembang porang yang diberi nama Poktan Cakratani.‎

Selain menanam sendiri, tahun 2019 Imamudin memperluas sumber pasokannya yang ‎tidak hanya dari Kecamatan Mancak tetapi juga dari.Kecamatan Gunung Sari, ‎Kecamatan Cinangka, dan Kecamatan Padarincang. Bahkan meluas sumbernya dari ‎Kecamatan Bayah, Kecamatan Malingping, dan Kecamatan Gunungkencana Kabupaten ‎Lebak dan juga Kecamatan Saketi dan Kecamatan Cibaliung Kabupaten Pandeglang.‎ Pemasaran porang dari Banten telah menjangkau wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, dan ‎Sumatera dengan kisaran harga per kg Rp12.000-15.000.

Empat jenis Amorphophallus yang umum dijumpai di Indonesia yaitu [4]:

  1. Amorphophallus muelleri Blume, sinonim A. oncophyllus Prain, A. burmanicus Hook. Amorphophallus muelleri sering juga disebut badur (Jawa), porang, acung atau acoan (Sunda), atau kerubut (Sumatera)
  2. Amorphophallus konjac Koch. sinonim A. rivieri, Hydrosme rivieri var. konjac, A. mairei. Amorphophallus konjac sering disebut dengan konjac (China), konnyaku (Jepang), pungapung (Tagalog, Filipina), bulangan (Mangyan).
  3. Amorphophallus paeoniifolius Nicolson, sinonim A. campanalatus Decaiisme, A. gigantiflorus Hayata. Amorphophallus paeoniifolius dikenal dengan nama suweg (dibudidayakan), walur, eles (liar).

Amorphophallus variabilis Blume, sinonim Brachyspatha variabilis Schott. Amorphophallus variabilis dikenal dengan nama cumpleng (Jawa), acung (Sunda) atau lorkong (Madura).

Taksonomi Porang

Kingdom       : Plantae (tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)

Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)

Divisio          : Magnoliophyta (berbunga)

Kelas            : Liliopsida (berkeping satu/monokotil)

Sub-kelas     : Arecidae

Ordo             : Arales

Famili           : Araceae (suku talas-talasan)

Genus          : Amorphophallus

Spesies        : Amorphophallus muelleri

Deskripsi Amorphophallus muelleri Blume

Batang

Batang tumbuh tegak, lunak, halus berwarna hijau atau hitam dengan belang-belang putih tumbuh di atas ubi yang berada di dalam tanah. Batang tersebut sebetulnya merupakan batang tunggal dan semu, berdiameter 5-50 mm tergantung umur/periode tumbuh tanaman, memecah menjadi tiga batang sekunder dan selanjutnya akan memecah lagi menjadi tangkai daun [5].

Tangkai berukuran 40-180 cm x 1-5 cm, halus, berwarna hijau hingga hijau kecoklatan dengan sejumlah belang putih kehijauan (hijau pucat). Pada saat memasuki musim kemarau, batang porang mulai layu dan rebah ke tanah sebagai gejala awal dormansi, kemudian pada saat musim hujan akan tumbuh kembali. Tergantung tingkat kesuburan lahan dan iklimnya, tinggi tanaman porang dapat mencapai 1,5 m [5].

Gambar 1. Warna tangkai porang [6].

Daun

Daun porang termasuk daun majemuk dan terbagi menjadi beberapa helaian daun (menjari), berwarna hijau muda sampai hijau tua. Anak helaian daun berbentuk elips dengan ujung daun runcing, permukaan daun halus bergelombang. Warna tepi daun bervariasi mulai ungu muda (pada daun muda), hijau (pada daun umur sedang), dan kuning (pada daun tua). Pada pertumbuhan yang normal, setiap batang tanaman terdapat 4 daun majemuk dan setiap daun majemuk terdapat sekitar 10 helai daun. Lebar kanopi daun dapat mencapai 25-150 cm, tergantung umur tanaman [5]. Daun porang bisa dikenali dengan melihat titik pangkal daunnya yang memiliki bulatan kecil berwarna hijau cerah hingga coklat sebagai bakal tumbuhnya bulbil. Titik tersebut mulai terlihat sejak tanaman berusia kurang lebih 2 bulan [2].

Gambar 2. Warna daun porang [6].

Bulbil/katak

Pada setiap pertemuan batang sekunder dan ketiak daun akan tumbuh bintil berbentuk bulat simetris, berdiameter 10- 45 mm yang disebut bulbil/katak yaitu umbi generatif yang dapat digunakan sebagai bibit. Besar kecilnya bulbil tergantung umur tanaman. Bagian luar bulbil berwarna kuning kecoklatan sedangkan bagian dalamnya berwarna kuning hingga kuning kecoklatan. Adanya bulbil/ katak tersebut membedakan tanaman porang dengan jenis Amorphophallus lainnya. Jumlah bulbil tergantung ruas percabangan daun, biasanya berkisar antara 4-15 bulbil per pohon [5].

Gambar Kiri. Umbi katak (bulbil) pada pertemuan pangkal daun [7];
Gambar Kanan Bulbil porang [6]

Umbi

Umbi porang merupakan umbi tunggal karena setiap satu pohon porang hanya menghasilkan satu umbi. Diameter umbi porang bisa mencapai 28 cm dengan berat 3 kg, permukaan luar umbi berwarna coklat tua dan bagian dalam berwarna kuning-kuning kecoklatan. Bentuk bulat agak lonjong, berserabut akar. Bobot umbi beragam antara 50- 200 g pada satu periode tumbuh, 250-1.350 g pada dua periode tumbuh, dan 450-3.350 g pada tiga periode tumbuh [5].

Gambar 5. Umbi hasil panen [1].

Bunga

Bunga tanaman porang akan tumbuh pada saat musim hujan dari umbi yang tidak mengalami tumbuh daun (flush). Bunga tersusun atas seludang bunga, putik, dan benangsari. Seludang bunga bentuk agak bulat, agak tegak, tinggi 20-28 cm, bagian bawah berwarna hijau keunguan dengan bercak putih, bagian atas berwarna jingga berbercak putih. Putik berwarna merah hati (maron). Benang sari terletak di atas putik, terdiri atas benangsari fertil (di bawah) dan benangsari steril (di atas). Tangkai bunga panjangnya 25-45 cm, garis tengah 16-28 mm, berwarna hijau muda sampai hijau tua dengan bercak putih kehijauan, dan permukaan yang halus dan licin. Bentuk bunga seperti ujung tombak tumpul, dengan garis tengah 4-7 cm, tinggi 10-20 cm [5].

Bunga kuncup [1] Bunga mekar penuh [1]

Buah/biji

Termasuk buah berdaging dan majemuk, berwarna hijau muda pada waktu muda, berubah menjadi kuning kehijauan pada waktu mulai tua dan orange-merah pada saat tua (masak). Bentuk tandan buah lonjong meruncing ke pangkal, tinggi 10-22 cm. Setiap tandan mempunyai buah 100-450 biji (rata-rata 300 biji), bentuk oval. Setiap buahnya mengandung 2 biji. Umur mulai pembungaan (saat keluar bunga) sampai biji masak mencapai 8-9 bulan. Biji mengalami dormansi selama 1-2 bulan [5].

Buah masak [1] Biji telanjang [1]

Akar

Tanaman porang hanya mempunyai akar primer yang tumbuh dari bagian pangkal batang dan sebagian tumbuh menyelimuti umbi. Pada umumnya sebelum bibit tumbuh daun, didahului dengan pertumbuhan akar yang cepat dalam waktu 7-14 hari kemudian tumbuh tunas baru. Jadi tanaman porang tidak mempunyai akar tunggang [5].

Referensi

[1]     Sumarwoto 2005 Iles-iles (Amorphophallus muelleri Blume); Deskripsi dan Sifat-sifat Lainnya Biodiversitas 6 185–90

[2]     Sulistiyo R H, Soetopo L and Darmanhuri 2015 Eksplorasi dan Identifikasi Karakter Morfologi Porang (Amorphophallus muelleri B.) di Jawa Timur J. Produksi Tanam. 3 353–61

[3]     Aryanti N and Abidin K Y 2015 Ekstraksi Glukomanan dari Porang Lokal (Amorphophallus oncophyllus dan Amorphophallus muerelli blume) Metana 11 21–30

[4]     Jansen P C M, Wilk C van der and Hetterscheid W L A 1996 Plant Resources of South-East Asia no. 9, Plants Yielding Non-Seed Carbohydrates ed M Flach and F Rumawas (Leiden: Backhuys Publishers, Leiden)

[5]     Saleh N, Rahayuningsih S A, Radjit B santoso, Ginting E, Harnowo D and Mejaya I M J 2015 Tanaman Porang: Pengenalan, Budidaya, dan Pemanfaatannya (Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanamaan Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian)

[6]     Aisah B N, Soegianto A and Basuki N 2017 Identifikasi Morfologi dan Hubungan Kekerabatan Tanaman Porang (Amorphophallus muellery Blume ) di Kabupaten Nganjuk, Madiun J. Produksi Tanam. 5 1035–43

[7]     Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan 2020 Bahan Ajar Teknik Budidaya Tanaman Porang (Ketindan: Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Kementerian ‎Pertanian)

http://banten.litbang.pertanian.go.id/new/index.php/berita/1920-tim-sdg-bptp-dan-upt-psbtphp-bersinergi-dalam-identifikasi-porang-lokal-banten

http://banten.litbang.pertanian.go.id/new/index.php/berita/2258-banten-kembangkan-tanaman-porang


Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu al-laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka, wa atuubu ilaik.

6 thoughts on “Mendulang Dollar dari Porang, Bagian 1: Pengenalan Tanaman”
  1. Aku juga sempet nih bahas Porang di blog. Ternyata memang Porang jadi salah satu umbi yg jarang diketahui, tapi punya segudang manfaat bahkan udah sampai luar negeri yah, kak.

    1. Iya kak, umbi porang banyak yang sudah diekspor.
      Boleh share link artikel porang-nya disini kak, ingin ikut baca juga tulisannya.
      Terima kasih sudah mampir ya!

    2. baca artikel ini jadi inget para petani di daerah saya skitar 1 atau hampir 2 th yg lalu, hasil panen-nya tdk sesuai harapan. akhirnya pada kecewa dan gak jadi nerusin nanem porang. sebab ternyata porang itu untuk di eksport. tdk di komsumsi sendiri.

      1. Konsumsi porang yang saya tahu saat ini memang perlu teknologi paska panen, seperti diolah menjadi beras shirataki. Petani yang membudidayakan porang biasanya sudah punya channel pemasaran hasil panennya, secara nasional maupun ekspor. Komoditas yang diekspor juga mempunyai standar tertentu, sehingga jika hasil panen tidak memenuhi standar, bisa tidak lulus ekspor. Semoga petani kita semakin berdaya dalam membudidayakan aneka komoditas unggulan.

Leave a Reply

Verified by MonsterInsights